Fabiayyi aalaa irabbikuma tukadzdzibaan....

Selasa, 06 Oktober 2015

Sepenggal kata untuk Suamiku



Sayang…Sudah berapa purnama kita bersama?
Sudah berapa banyak rintik hujan membasahi pori-pori kita?
Melewati hari-hari yang menelisik pucuk waktu
Melenakanku bersama kelembutan darimu
Menjuntaikan rasaku karena manis manjamu
Perhatianmu mengelumat habis egoku yang meradang
Aku terlelap tak hanya sekejap
Aku berlarian memunguti cintamu yang berserakan seperti dedaunan yang terhempas
Tak sadar embun berbisik cemburu penuh malu
Melihat canda nakalmu yang selalu menggodaku

Suamiku…tak ada secuil sesal pun menggelayutiku
Dengan senyum terkembangmu kau rayu aku
Kau datang berbaris-baris untuk tanpa ragu mencuriku dari orang tuaku
Bertanya apakah aku mau
Iya sayang…kata apa yang sepantasnya untuk ku ucap tanda tak mau
Duduk di atas singgasana hatimu
Mendampingimu…
Menjadi teman hidupmu…..


Dariku,
yang ada di relung hatimu


(Memperingati setahun perkawinan kami 26 Sept '14-26 Sept '15)

Senin, 17 Agustus 2015

Enjoy Makassar

Alhamdulillah, untuk nafas yang masih terhembus dan mata yang bisa melihat serta menikmati keindahan karunia Allah yang tiada tara. Awal Agustus 2015, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi jengkal-jengkal tanah Allah di bumi para daeng, Makassar. Saya ke sana bukan tanpa alasan. Pertama, kebetulan kakak ipar saya sudah sekitar sepuluh bulan dinas di sana. Kedua, mengunjungi kakek  (pakdhe-nya Bapak)  yang sudah lama tinggal dan beranak pinak dan sudah belasan tahun tidak berjumpa. Dan yang ketiga, bertepatan dengan adanya event Muktamar Muhammadiyah ke-44. Tiga alasan itu yang membuat saya meng-iya-kan ajakan kakak dan Bapak untuk pergi ke Makassar. Tentunya, satu alasan lagi yang tidak ketinggalan yaitu saya mengantongi ijin dari suami tercinta. Terima kasih sayang, hehehe. 
Kami berangkat dari Surabaya dengan maskapai penerbangan City Link, boarding pukul 16.40 WIB kemudian take off pukul 17.05 WIB. Dan tiba di Makassar sekitar pukul  19.15 WITA. Penerbangan memakan waktu satu jam sepuluh menit saja. Terasa sangat cepat memang jika menggunakan jasanya besi raksasa ini, hehehe. Sesampainya di Makassar, kami sudah dijemput oleh kakak ipar di bandara. Kemudian kami menuju kedai makan karena sudah sangat lapar. Menu yang dipilih oleh kakak ipar sebagai menu makan malam adalah coto Makassar, yaa...makanan yang tersohor itu. Kami makan malam di kedai Coto Pettarani yang jelas lokasinya di Jalan Pettarani. Coto Makassar bukan sepeti soto yang biasa ada di Jawa, tapi lebih seperti rawon dengan kuah yang lebih kental. Cara menikmatinya tidak dengan nasi melainkan dengan ketupat yang sudah disediakan. Boleh ambil satu, dua atau tiga ketupat untuk menemani coto Makassar yang lazis ini. 
Coto Makassar
Selain coto Makassar, makanan yang sempat saya cicipi di sini adalah palu bassa serigala dan sop saudara. Dari namanya saja sudah nampak  mengerikan, ya to.... Seperti kanibal saja, hahaha. Ketiga makanan tersbut menurut saya bedanya sedikit. Tapi,, semua pasti isinya daging sapi. Hohoho....satu jawaban diperoleh,, kenapa banyak orang Makassar yang pandai-pandai. Makanannya daging terus se..... :D 

Sop saudara sama seperti coto namun penyajiannya dengan nasi dan kuah agak lebih encer. Menu yang menemani adalah ikan bolu bakar, kalau di Jawa bisa dibilang bandeng gitu kali ya. Saya tidak begitu suka karena rasanya hambar. Hihihi. 
Sop saudara dan ikan bolu bakar
Pallu basa serigala yang berlokasi di Jalan Serigala. Warungnya tidak begitu besar, namun pengunjungnya meluber. Full.... Pallu basa tidk jauh berbeda dengan coto, namun lebih pada tambahan parutan kelapa di dalam kuahnya.  Isinya potongan daging yang sudah dimasak empuk. Tinggal pilih, boleh isi campur, hati atau yang lainnya sesuai selera. 
Pallu basa serigala

Pantai Losari
Icon-nya Makassar. Ibarat kata, tidak afdol jika ke Makassar tanpa berkunjung ke Pantai Losari. Di pantai ini, kita bisa menyaksikan langsung pemandangan laut lepas yang indah. Alhamdulillah, waktu itu saya sampai menjelang maghrib, jadi bisa menyaksikan keindahan sunset Losari. Losari bukanlah pantai yang berpasir layaknya Parang Tritis, tepi pantai berupa plengsengan yang dicor rapi. Ada beberapa anjungan di Pantai Losari, seperti anjungan Makassar, Bugis, Toraja. Nampak juga Masjid apung Amirul Mukminin yang menjorok ke laut. 







Taman Nasional Bantimurung, Maros
Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung terletak di Kabupaten Maros, sekitar satu jam dari Makassar. Kala itu, kami berangkat dari rumah dinas kakak ipar sekitar pukul 08.00 dan sampai di Bantimurung sekitar pukul 09.00. Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung memiliki berbagai keunikan, yaitu: karst, goa-goa dengan stalaknit dan stalakmit yang indah, dan yang paling dikenal adalah kupu-kupu. Bantimurung oleh Alfred Russel Wallace dijuluki sebagai The Kingdom of Butterfly (kerajaan kupu-kupu). Taman Nasional ini merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang menyuguhkan wisata alam berupa lembah bukit kapur yang curam dengan vegetasi tropis, air terjun, dan gua yang merupakan habitat beragam spesies [termasuk [kupu-kupu].

 Memasuki area taman nasional, kita akan melihat dari kejauhan air terjun yang menurut saya tidak seperti biasanya, karena berundak dan melebar. Waktu itu sangat ramai pengunjung, para penggembira  Muktamar Muhammadiyah berbondong-bondong ingin menikmati suasana Bantimurung. 
Air Terjun TN.Bantimurung


Di dalam Museum Kupu-kupu


Istana Tamalatea, Gowa

Senin, 27 Juli 2015

(Menuju) Kota Kinabalu #Juni 2015

Waktu menunjukkan pukul 5 pagi kala itu. Saya sudah bersiap dengan bawaan satu koper dan satu ransel dari kos Eva di daerah Jetis, Ketintang. Saya kemudia bergegas menuju bandara bersama Eva, Yanuar dan Arian. Yaa..pagi buta kala itu (13 Juni 2015), saya hendak berangkat ke negeri jiran untuk menemui teman saya (baca:teman hidup). Perjalanan sekitar 20 menit untuk sampai di bandara Juanda. Kebetulan saya menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia dengan jadwal penerbangan jam 7 menuju Denpasar, Bali.
(Ki-Ka) Eva dan Saya di bandara Juanda

Deretan Gunung di Pegunungan Ijen

Singkat cerita, sekitar pukul 9 WITA saya tiba di bandara Ngurah Rai. Dari terminal kedatangan domestik, saya berjalan menuju keberangkatan internasional sendirian. Kali ini bonek jadi teman setia saya. Saya coba hubungi suami dan beliau menyarankan kepada saya untuk beristirahat di mushola saja. Baiklah, langkah saya tertuju pada kursi tunggu di lantai dasar untuk rehat sejenak dan memakan snack yang ada. "Lingak-linguk" seperti orang hilang, tak jarang saya dihampiri oleh sopir taksi atau agen travel yang bersliweran di situ. Bahkan lucunya, ada yang seperti tidak percaya ketika saya berada di terminal keberangkatan internasional. Mungkin tampang saya bukan tampang TKW :D. Setelah satu ja rehat, juga makan di Bangi Kopitiam, saya menuju mushola di lantai dua. Sesesampainya di mushola, saya ambil air wudhu untuk shalat dhuha. Sepi...hanya ada saya dan seorang wanita paruh baya di sudut mushola yang sedang men-charge telepon genggamnya. Usai shalat, Ibu itu mendekati saya dan bertanya tentang tujuan saya. 'Kota Kinabalu" yaa.. itu jawaban saya. Dan ternyata...Beliau juga hendak ke KK untuk bekerja. Beliau berangkat dengan seorang laki-laki yang membawanya dari Banyuwangi. Alhamdulillah, akhirnya saya mendapat teman menunggu. Pukul 13.00 kami check in dan berjalan menyusuri bandara yang mewah itu menuju ruang tunggu di Gate 9. Pukul 15.30 kamu take off menuju Kota Kinabalu dengan masa tempuh 2 jam 30 menit.

Salah Satu Sisi dalam Bandara Ngurah Rai

Pesawat maskapai penerbangan Air Asia QZ 832 mendarat sempurna di bandara Kota Kinabalu sekitar pukul 18.00. Hati saya sudah campur aduk rasanya ingin segera menemui teman saya yang sudah 6 bulan tidak bertemu. Setelah melewati petugas imigrasi dan cek barang, saya berjalan tergesa-gesa menuju ruang tunggu. Dan.....alhamdulillah yaa Allah, laki-laki tampan itu tersenyum sembari melambaikan tangan kepada saya. Saya berlari mendekat, meraih tangan kanannya dan menciumnya. Kami kemudian menunggu bus kota ke Kampung.Air untuk mencari penginapan. Kami memilih bermalam di Hotel Kinabalu di kawasan Kg. Air.

Kawasan Kg.Air, Kota Kinabalu, Sabah, MY

Pukul 20.00 setelah shalat, kami menuju Center Point, salah satu pusat perbelanjaan di KK untuk makan malam dan sekedar jalan-jalan. Saya memilih menu yang sangat saya gemari jika ke Sabah, yaitu ayam asam manis dan ayam lemon, Tak lupa sup kosong sebagai teman makan yang selalu disediakan oleh rumah makan dengan cuma-cuma. FYI : sup kosong adalah kuah sup tanpa ada isi daging atau yang lain. Rasanya sarat rempah dengan bumbu khusus ala-ala Malaysia. Usai makan malam, kami lanjut jalan-jalan ke Kaison. Kaison adalah toko yang menjual pernak-pernik dengan harga yang terjangkau. Mata saya benar-benar dimanja oleh ratusan benda lucu dan cantik di sana. Berputar ke sana kemari, berfoto sana-sini. Suami dengan tlaten mengikuti dan menuruti mau saya untuk berfoto. Terima kasih, sayang :*. 

Lorong Kaison


Masih banyak cerita dari Kota Kinabalu yang insyaAllah akan saya bagi lagi. Semoga bermanfaat dan memberi inspirasi.